AwasGempa: Sistem Pendeteksi dan Peringatan Gempa Berbasis Komunitas

Sebagai warga Jogja, gempa bumi adalah ancaman kami yang tidak akan pernah berhenti mengintip. Akibatnya bisa sangat fatal jika terlambat tahu dan tidak berhasil menyelamatkan diri pada saat gempa besar datang. Beberapa kali, berdasar pengalaman pribadi, gempa datang malam hari ketika semua orang terlelap. Sebagian besar warga sama sekali tidak sadar padahal gempa cukup keras hingga di atas 5 skala Richter (SR). Di era teknologi maju seperti saat ini, harusnya ada perangkat atau sistem yang dapat memberi tahu kita bahwa gempa datang. Karena menurut para ahli hingga saat ini tidak ada teknologi yang dapat memprediksi datangnya gempa secara akurat. Jadi, paling tidak kita dapat terbangun dan langsung menyelamatkan diri saat gempa datang.

Ternyata, smartphone kita dapat mendeteksi gempa di atas 5 SR. Dengan twist tertentu, kita bisa membuat sistem yang mampu memberi tahu kita serta juga teman, saudara, dan publik lain yang berada di jarak sekitar kita. Bahkan dengan sistem berjejaring, sistem bisa dibuat sangat akurat karena sinyal gempa tidak hanya dikirim dari 1-2 ponsel saja, tapi bisa ratusan bahkan ribuan user, sehingga membuat sistem bisa memastikan secara akurat bahwa sedang terjadi gempa di suatu tempat dan memberi alarm ke semua orang melalui aplikasi mobile. Ini ide yang dibuat Tim Universitas Berkeley, USA, namanya MyShake. Tidak ada salahnya sistem dengan ide yang mirip dikembangkan di Indonesia sesuai sikon kita yang spesifik?

Deskripsi Ide. Sistem AwasGempa dibuat dari 3 komponen utama, yang pertama adalah pengguna terverifikasi yang dapat men-supply data gempa di tempat ybs ke sistem; kedua, pengguna biasa yang mendapatkan notifikasi peringatan bahwa ada gempa di lokasinya atau lokasi lain; ketiga adalah supply data mendekati real time (dilakukan manual oleh operator khusus) ke pendeteksi gempa dari otoritas seperti BMKG atau USGS (sebagai data pendukung).

Dua komponen penyumbang data gempa adalah user terverifikasi dan operator data BMKG dan USGS. Kedua sumber data ini memasukkan data gempa ke sistem AwasGempa secara real time. Sementara seluruh user (terutama user publik) akan dapat melihat kondisi gempa di aplikasi berbasis peta digital. Sistem akan memberikan notifikasi dan alarm begitu dipastikan ada gempa sedang terjadi di lokasi user.

Sistem menggunakan aplikasi smartphone untuk mendeteksi gempa di atas 5 SR (dengan sensor accelerometer dan gyroscope), serta alat khusus pendeteksi gempa berbasis IoT dan Arduino yang dimiliki dan dioperasikan oleh user terverifikasi (tersebar di berbagai tempat). Para user terverifikasi ini akan bertambah terus dengan dukungan komunitas yang makin banyak. Data gempa yang masuk dibatasi di atas 5 SR. Data getaran di smartphone dan IoT akan dianalisis di aplikasi untuk memastikan bahwa getaran adalah gempa bumi dan bukan getaran dari sumber lain (dengan algoritma untuk melakukan matching pattern dari gempa bumi dan getaran lain).

Manfaat & Peluang. Pada tahap awal, sistem ini diarahkan untuk memberikan warning bagi masyarakat melalui smartphone. Namun, jika kekuatan komunitas bisa berkembang kuat, maka terbuka peluang sangat besar untuk menjadikan sistem AwasGempa ini sebagai aplikasi terpenting bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan. User terverifikasi bisa bertambah terus, jika sudah sangat banyak, maka sistem ini akan menjadi sangat akurat dan cepat. Ke depan, setiap gempa yang terjadi bisa diberi tambahan komentar, ulasan, atau verifikasi dari para pengguna, dengan begitu seluruh user mendapat data yang lengkap dan komplit.


Post a Comment

0 Comments